SINJAI.Wahdah.Or.Id — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Sinjai menghadirkan Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Pusat, Ustaz Dr. Muhammad Yusran, Lc., M.A., dalam rangkaian Safari Dakwah di Kabupaten Sinjai.
Kegiatan tersebut dikemas dalam Taklim Spesial Malam Ahad dengan tema “Menjadi Kunci Kebaikan dan Penutup Kebaikan” yang berlangsung di Masjid Agung Nujumul Ittihad Sinjai, Sabtu (19/9/2026), selepas Magrib hingga Isya.
Dalam penyampaiannya, Ustaz Muhammad Yusran mengajak jamaah untuk tidak hanya menjadi pribadi yang baik, tetapi juga menjadi orang yang melalui dirinya Allah membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang lain.
Ia menjelaskan, dalam sebuah hadis Nabi ﷺ dikenal istilah مَفَاتِيحُ لِلْخَيْرِ (mafātīḥ lil-khair) atau kunci-kunci kebaikan dan مَفَاتِيحُ لِلشَّرِّ (mafātīḥ lisy-syarr) atau kunci-kunci keburukan. Istilah tersebut menggambarkan manusia yang keberadaannya menjadi sebab terbukanya kebaikan atau justru keburukan.
“Pertanyaannya bukan hanya, apakah saya sudah menjadi orang baik? Tetapi melalui diri saya, apakah kebaikan menjadi lebih mudah atau justru lebih sulit?” jelasnya.
Menurutnya, seseorang bisa saja memiliki banyak kebaikan dalam dirinya, seperti rajin beribadah dan menjaga diri dari keburukan. Namun, kebaikan tersebut hendaknya tidak berhenti pada kesalehan pribadi.
Ilmu yang dimiliki, kata dia, dapat diajarkan. Rezeki dapat dibagikan. Kemampuan dapat digunakan untuk membantu orang lain, sementara kedudukan dan kesempatan dapat dimanfaatkan untuk membuka jalan bagi kemanfaatan.
“Islam tidak mengajarkan kesalehan yang hanya dinikmati oleh diri sendiri,” ujarnya.
Ustaz Muhammad Yusran juga mengingatkan jamaah agar tidak menukar keridaan Allah dengan simpati manusia. Dalam menjalankan kebaikan, seseorang terkadang menghadapi keinginan untuk mendapatkan pujian, penerimaan, atau disukai orang lain.
Menurutnya, simpati manusia tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Seseorang dapat berbuat baik tetapi tetap disalahpahami, bahkan ketika memilih kebenaran bisa saja kehilangan sebagian penerimaan manusia.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjadikan keridaan Allah sebagai tujuan utama.
“Tujuan seorang Muslim bukan membuat seluruh manusia menyukainya, tetapi berusaha agar Allah meridainya,” tuturnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa kesalehan pribadi tidak cukup jika seseorang membiarkan keburukan yang terjadi di sekitarnya.
Seorang Muslim, lanjutnya, perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan mengambil peran sesuai kemampuan. Ketika masjid membutuhkan perhatian, ada yang membantu. Ketika kegiatan dakwah membutuhkan tenaga, ada yang hadir. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, ada yang mengambil bagian.
“Menjadi kunci kebaikan tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi berusaha membuat kebaikan hadir dan dirasakan oleh orang lain,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, jamaah diajak melakukan muhasabah tentang peran masing-masing di tengah lingkungan.
Ketika hadir dalam sebuah lingkungan, apakah keberadaannya membuat suasana menjadi lebih baik? Ketika memegang amanah, apakah semakin banyak kebaikan yang dapat berjalan? Ketika memiliki ilmu dan kesempatan, apakah orang lain ikut memperoleh manfaat?
Ia menekankan bahwa setiap orang mungkin tidak mampu melakukan seluruh kebaikan, tetapi setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuan.
“Menjadi orang yang memudahkan kebaikan, mengajak kepada kebaikan, membantu orang lain melakukan kebaikan, dan sebisa mungkin menjadi orang yang menutup jalan menuju keburukan,” pesannya.
Ustaz Muhammad Yusran kemudian menutup dengan doa agar Allah menjadikan kaum Muslimin sebagai مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ, yakni kunci-kunci kebaikan sekaligus penutup jalan-jalan keburukan.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ

Radio Wahdah