Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Kecamatan Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai, tidak hanya menyimpan keindahan alam bahari. Di balik gugusan pulaunya, terdapat potensi energi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: matahari, angin, laut, dan berbagai sumber daya alam lain yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Salah satu potensi yang paling menjanjikan adalah energi surya. Hal ini semakin terasa ketika dilakukan fieldtrip bersama Al Akh Ir. Ahmaddin Syargawi ke lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Desa Buhung Pitue, Pulau Burungloe, Kecamatan Pulau Sembilan.
Kunjungan lapangan tersebut memberikan gambaran nyata bahwa sinar matahari yang setiap hari menyinari kawasan kepulauan bukan sekadar fenomena alam, tetapi dapat diubah menjadi energi yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Dan yang teristimewa, laporan fieldtrip ini akan dibawa untuk dilakukan penelitian lebih lanjut di Kumamoto University, Jepang.
Matahari yang Setiap Hari Hadir
Bagi masyarakat kepulauan, energi merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Listrik dibutuhkan untuk penerangan, kegiatan pendidikan, pelayanan kesehatan, aktivitas rumah tangga, komunikasi, usaha kecil, hingga kegiatan perikanan.
Karakteristik Pulau Sembilan yang terdiri atas pulau-pulau kecil membuat pengembangan energi berbasis sumber daya lokal menjadi sangat menarik. Salah satunya adalah energi matahari, di mana matahari hadir hampir setiap hari tanpa perlu dibeli dan tanpa harus didatangkan dari luar pulau.
Dengan teknologi panel surya, cahaya matahari dapat dikonversi menjadi energi listrik. Listrik tersebut dapat digunakan secara langsung maupun disimpan di dalam baterai untuk digunakan ketika matahari sudah tidak bersinar.
Fieldtrip di PLTS Buhung Pitue memberikan pembelajaran penting bahwa teknologi energi terbarukan sesungguhnya bukan sesuatu yang jauh dari masyarakat. Panel surya, inverter, baterai, jaringan distribusi, serta sistem pengelolaannya dapat dilihat secara langsung sebagai sebuah kesatuan sistem penyedia energi.
Dan dari sinilah muncul satu pemikiran sederhana: jika matahari merupakan karunia yang tersedia setiap hari, sejauh mana kita telah mengubah karunia itu menjadi manfaat nyata bagi masyarakat?
Dari PLTS Menuju Energi Produktif
Pengembangan PLTS di wilayah kepulauan seharusnya tidak berhenti pada persoalan penerangan. Energi surya mempunyai potensi yang jauh lebih luas. Di wilayah seperti Pulau Sembilan, listrik dari matahari dapat diarahkan untuk mendukung fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, penerangan dermaga, pompa air, usaha masyarakat hingga pengolahan hasil perikanan.
Masyarakat Pulau Sembilan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan laut. Karena itu, energi surya berpotensi dikembangkan untuk mendukung freezer, pembuatan es, dan cold storage bagi hasil tangkapan nelayan.
Demikian pula pada sektor pariwisata. Energi bersih dapat dimanfaatkan untuk penerangan kawasan, homestay, pengisian perangkat elektronik, fasilitas air bersih, serta berbagai sarana pendukung wisata. Dengan pendekatan seperti itu, PLTS bukan sekadar proyek teknologi. Ia dapat menjadi bagian dari pembangunan ekonomi lokal.
Energi sebagai Bagian dari Amanah
Dalam perspektif Islam, alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Alam merupakan ciptaan sekaligus nikmat Allah yang harus dikelola dengan ilmu, tanggung jawab, dan tujuan yang baik.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Luqman ayat 20:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia juga menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu...”
Ayat tersebut dapat menjadi salah satu landasan reflektif dalam melihat sumber daya alam. Matahari, angin, laut, dan berbagai kekayaan alam yang tersedia dapat dimanfaatkan manusia. Namun, kata dimanfaatkan tentu tidak sama dengan dihabiskan. Pemanfaatannya harus dilakukan dengan pengetahuan, teknologi, tanggung jawab, serta diarahkan kepada kemaslahatan.
Menarik pula bahwa Al-Qur'an secara khusus mengajak manusia memperhatikan matahari. Dalam QS. Luqman ayat 29, Allah Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.”
Dalam konteks kehidupan modern, kemampuan manusia mengubah radiasi matahari menjadi listrik melalui panel fotovoltaik dapat dipandang sebagai salah satu bentuk penggunaan ilmu pengetahuan untuk mengambil manfaat dari sunnatullah yang bekerja di alam. Teknologi kemudian menjadi alat. Nilai akhirnya bergantung pada untuk apa teknologi itu digunakan.
Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat
Pengembangan energi terbarukan menjadi semakin bermakna ketika orientasinya tidak semata-mata teknologi, tetapi manfaat sosial.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’.
Pesan hadis ini sangat relevan jika dikaitkan dengan pembangunan teknologi. Ilmu tentang energi tidak seharusnya berhenti pada ruang kelas, laboratorium, laporan penelitian, atau diskusi akademik. Ilmu akan memperoleh nilai yang lebih tinggi ketika hasilnya dapat digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Jika panel surya dapat membantu seorang anak belajar pada malam hari, maka teknologi itu telah memberi manfaat. Jika listrik dari matahari dapat membantu fasilitas kesehatan menjalankan pelayanan, maka teknologi itu telah memberi manfaat. Jika energi tersebut dapat membantu nelayan menyimpan hasil tangkapannya sehingga tidak cepat rusak, maka teknologi itu telah memberi manfaat.
Dan jika energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat pulau terhadap bahan bakar yang harus didatangkan dari luar, maka manfaatnya semakin luas.
Dari Fieldtrip Menuju Gerakan Pengetahuan
Kegiatan fieldtrip ke PLTS Desa Buhung Pitue, Pulau Burungloe, seharusnya tidak berakhir sebagai kegiatan melihat instalasi pembangkit. Fieldtrip dapat menjadi titik awal untuk melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.
Berapa besar radiasi matahari yang tersedia sepanjang tahun di Pulau Sembilan? Berapa kebutuhan listrik masyarakat pada setiap pulau? Apakah kapasitas PLTS yang ada masih mencukupi? Bagaimana kondisi baterainya? Bagaimana sistem pemeliharaannya? Apakah PLTS dapat dikombinasikan dengan energi angin? Apakah listrik yang dihasilkan dapat diarahkan lebih jauh untuk mendukung industri perikanan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, serta sektor swasta.
Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian dan pendampingan teknologi. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan dukungan infrastruktur. Pemerintah desa dapat memperkuat kelembagaan pengelolaan. Sementara masyarakat menjadi aktor utama yang menjaga dan memanfaatkan teknologi tersebut.
Pendekatan seperti inilah yang akan membuat energi terbarukan tidak hanya hadir sebagai proyek pembangunan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Menjemput Cahaya, Menebar Manfaat
Pulau Sembilan dianugerahi matahari, angin, dan laut. Semuanya adalah sumber daya yang dapat dipelajari, dijaga, dan dimanfaatkan. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang benar-benar memberikan manfaat.
Karenanya, pengembangan PLTS di Pulau Sembilan layak dipandang lebih jauh daripada sekadar penyediaan listrik. Ia dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian energi, peningkatan ekonomi masyarakat, pendidikan lingkungan, penguatan sektor perikanan, serta pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Di sinilah ilmu pengetahuan, teknologi dan nilai keagamaan dapat bertemu. Alam menyediakan sumber dayanya. Ilmu memberikan cara untuk memanfaatkannya. Sedangkan nilai agama memberikan arah agar pemanfaatan tersebut tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi menghadirkan kemaslahatan.
Pada akhirnya, cahaya matahari yang menyinari Pulau Burungloe setiap hari semestinya tidak hanya kita pandang sebagai panas yang datang dan pergi. Di dalamnya terdapat energi. Di dalam energi terdapat peluang. Dan ketika peluang itu dikelola dengan ilmu dan kepedulian, di sanalah ia dapat berubah menjadi manfaat bagi banyak manusia.
Oleh: Ir. Rudi Heryana, S.T., M.Pd., IPM., ASEAN Eng., CIFA
Wakil Ketua DPD WI Sinjai

Radio Wahdah