Bangunlah Kerinduanmu pada Negeri Akhirat: Pelajaran dari QS. Fathir dan Kehidupan Rasulullah ﷺ

Oleh: Ustaz Dr. H. Muhammad Basran Yusuf, Lc., M.A. 
Disampaikan pada Ta'lim di Masjid Ali bin Abi Thalib, Jumat, 29 Mei 2026

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia, seorang mukmin perlu terus menumbuhkan kerinduan kepada negeri akhirat. Dalam ta'lim yang disampaikan di Masjid Ali bin Abi Thalib, Ustaz Basran hafizhahullah mengajak jamaah merenungi firman Allah dalam Surah Fathir ayat 31–33 serta sejumlah hadits shahih yang menggambarkan kemuliaan umat Muhammad ﷺ dan pentingnya tidak terpedaya oleh gemerlap dunia.

Pewaris Kitab yang Dipilih Allah

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dari Al-Kitab itulah yang haq, membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya." (QS. Fathir: 31)

Kemudian Allah berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu dalam kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fathir: 32)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menyebutkan tiga golongan umat Muhammad ﷺ, yaitu ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ (zhâlim li nafsih), مُقْتَصِدٌ (muqtashid), dan سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (sâbiq bil khayrât).

Yang menarik, ketiganya disebut oleh Allah sebagai:

الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

"orang-orang yang Kami pilih."

Menurut Ustaz Basran, ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Umat Terbaik dan Penghuni Terbanyak Surga

Keistimewaan umat ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah ﷺ:

أَنْتُمْ تُوفُونَ سَبْعِينَ أُمَّةً، أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ

"Kalian adalah yang melengkapi tujuh puluh umat; kalian adalah yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah."

(HR. Tirmidzi no. 3001 dan Ibnu Majah no. 4289)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dari 120 shaf penghuni surga, 80 shaf berasal dari umat Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itu, keistimewaan tersebut seharusnya melahirkan rasa syukur dan semangat beramal, bukan rasa aman yang membuat lalai.

Jangan Meremehkan Sesama Muslim

Ustaz Basran juga mengingatkan pentingnya husnuzan kepada sesama muslim. Bisa jadi seseorang yang tampak lalai termasuk golongan yang kelak bertaubat sebelum wafat. Sementara yang terlihat biasa-biasa saja mungkin merupakan hamba yang istiqamah hingga akhir hayat.

Karena itu, jangan mudah merendahkan kaum muslimin, sebab hanya Allah yang mengetahui bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang.

Ketika Rasulullah ﷺ Memilih Tikar Kasar

Salah satu pelajaran paling menyentuh datang dari kisah Rasulullah ﷺ yang memisahkan diri dari istri-istrinya selama 29 hari.

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu datang menjenguk beliau, Umar melihat bekas tikar yang membekas di tubuh Rasulullah ﷺ. Umar pun menangis mengingat para raja dunia hidup dalam kemewahan sementara Rasulullah ﷺ hidup sangat sederhana.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمُ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ؟

"Apakah engkau tidak ridha jika dunia itu untuk mereka, sedangkan akhirat itu untuk kita?"

(HR. Bukhari)

Kalimat inilah yang menjadi inti dari kerinduan kepada akhirat. Padahal Rasulullah ﷺ memiliki hak atas seperlima ghanimah kaum muslimin, namun beliau memilih kehidupan yang sederhana dan menginfakkan hartanya untuk kepentingan umat.

Balasan bagi Pewaris Al-Qur'an

Setelah menyebut tiga golongan umat ini, Allah menjelaskan balasan mereka:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

"Surga 'Adn yang mereka memasukinya; di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera." (QS. Fathir: 33)

Menurut Ustaz Basran, Allah menggunakan kata:

يَدْخُلُونَهَا

"Mereka memasukinya."

Ini menunjukkan bahwa ketiga golongan tersebut memiliki janji surga selama meninggal dalam keadaan membawa Islam dan iman.

Iman yang Naik Turun

Beliau juga mengangkat kisah Hanzhalah radhiyallahu 'anhu yang merasa dirinya munafik karena merasakan perubahan kondisi iman setelah meninggalkan majelis Rasulullah ﷺ.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

"Tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya dan ada saatnya."

(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa naik-turunnya iman merupakan bagian dari kehidupan manusia di dunia. Namun kondisi tersebut hendaknya membuat seorang mukmin semakin merindukan akhirat, tempat di mana iman tidak lagi berkurang dan kenikmatan tidak lagi berakhir.

Qurban dan Latihan Melepaskan Dunia

Dalam momentum Iduladha, qurban menjadi sarana melatih hati agar tidak terlalu terikat dengan dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

"Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian." (QS. Al-Hajj: 37)

Qurban mengajarkan seorang mukmin untuk melepaskan apa yang dicintainya demi meraih keridhaan Allah, sebagaimana Nabi Ibrahim 'alaihissalam memberikan teladan yang agung dalam ketaatan.

Alarm Keras Akhir Zaman

Di akhir tausiah, Ustaz Basran mengingatkan hadits Rasulullah ﷺ:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنَ الْحَرَامِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak lagi peduli dari mana ia mengambil sesuatu, apakah dari yang halal atau dari yang haram."

(HR. Bukhari)

Beliau juga membawakan sabda Nabi ﷺ:

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

"Ia menjual agamanya demi secuil keuntungan dunia."

(HR. Muslim)

Karena itu, di tengah fitnah dunia yang semakin besar, seorang mukmin harus memiliki jangkar yang kuat, yaitu kerinduan kepada negeri akhirat.

Bangunlah Kerinduan Itu

Menutup tausiahnya, Ustaz Basran mengajak jamaah untuk terus membangun kerinduan kepada kampung akhirat. Setiap kali dunia memikat hati, ingatlah surga yang Allah janjikan. Setiap kali iman melemah, jadikan itu sebagai pengingat bahwa kehidupan yang sempurna belum berada di dunia ini.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ dan mengakhiri kehidupan kita dengan husnul khatimah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Hikmah | 02 Jun | Selengkapnya ...

PSR 1447 H: Ramadan Bulan Pilihan Allah, Saatnya Bersiap dengan Ilmu dan Amal

SINJAI.Wahdah.Or.Id — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah Sinjai menggelar Penataran Seputar Ramadan (PSR) 1447 H di Markaz DPD Wahdah Islamiyah Sinjai, Ahad, 8 Februari 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Dr. Muhammad Harsyah Bachtiar, Lc., M.A. sebagai pemateri utama.

Dalam penyampaiannya, Ustaz Muhammad Harsyah Bachtiar menegaskan bahwa dalam beramal, khususnya berinfak, seorang muslim tidak perlu menunggu ucapan terima kasih dari lembaga. Justru sebaliknya, kitalah yang seharusnya berterima kasih karena telah difasilitasi untuk berinfak. Amal adalah kebutuhan hamba, bukan kebutuhan organisasi.

Beliau menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan seluruh makhluk, lalu memilih sebagian di antaranya untuk dimuliakan. Di antara manusia, Allah mengangkat derajat para nabi, khususnya Ulul Azmi dan Khalilurrahman. Di antara malaikat, Allah memilih Malaikat Jibril sebagai yang paling utama. Demikian pula dengan tempat, Allah memilih dua negeri yang diberkahi, yaitu Makkah dan Al-Quds.

Pemilihan Allah juga tampak pada waktu. Dari dua belas bulan yang diciptakan, terdapat bulan-bulan yang dimuliakan, dan puncaknya adalah bulan Ramadan. Bulan ini disebut secara khusus dalam Al-Qur’an sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga menjadikannya bulan yang sangat istimewa dalam syariat Islam.

Terkait suasana Ramadan, beliau menyampaikan bahwa setan yang dibelenggu adalah para pemimpinnya, sedangkan pengikut-pengikut kecilnya masih ada. Oleh karena itu, peluang beramal terbuka luas, namun seorang muslim tetap dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatannya. Ramadan juga merupakan bulan kebahagiaan, yakni kebahagiaan saat berbuka puasa dan kebahagiaan ketika kelak berjumpa dengan Rabb-nya.

Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, jamaah diarahkan untuk melakukan persiapan, di antaranya segera menunaikan qadha puasa tahun sebelumnya, membiasakan diri dengan puasa sunnah sebagai bentuk pemanasan, serta membersihkan diri dengan memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada sesi tanya jawab, dijelaskan bahwa dosa yang diampuni secara otomatis adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus dan munajat kepada Allah. Saat berpuasa, seorang muslim dilarang berbohong karena termasuk dalam qoul az-zur. Adapun patokan berbuka puasa adalah masuknya waktu Magrib, baik terdengar azan maupun tidak.

Beliau juga menyampaikan kaidah ijtihad, bahwa ijtihad yang benar akan mendapatkan dua pahala, sementara ijtihad yang keliru tetap mendapatkan satu pahala. Bagi kaum muslimin awam, sikap yang tepat adalah mengikuti ulama (muqallid). Terkait adab terhadap Al-Qur’an, menyentuh mushaf disyaratkan dalam keadaan suci, namun diperbolehkan menggunakan alat bantu seperti pena.

Dalam pembahasan qadha puasa, ditegaskan bahwa ibu hamil atau menyusui yang khawatir terhadap diri dan anaknya hanya wajib qadha tanpa fidyah. Fidyah hanya dibolehkan bagi orang tua renta atau penderita sakit kronis yang harus rutin mengonsumsi obat. Wanita hamil tetap wajib mengganti puasa di waktu lain, dan boleh beralih ke fidyah tanpa qadha jika benar-benar tidak mampu, dengan diqiyaskan kepada orang sakit. Adapun bagi wanita yang mengalami kehamilan setiap tahun, selama masih mampu mengqadha, maka kewajiban qadha tetap berlaku.

Menutup materinya, beliau menjelaskan bahwa guru mengaji diperbolehkan mengajarkan murid menggunakan buku Iqra’ karena Iqra’ bukan mushaf Al-Qur’an, meskipun di dalamnya terdapat potongan ayat.

Melalui PSR Penataran Ramadan ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang keutamaan bulan Ramadan serta kesiapan ruhiyah dan amaliah dalam menyambut bulan suci yang penuh keberkahan.

By MEDIKOM Wahdah Sinjai

Hikmah | 09 Feb | Selengkapnya ...

Latihan Beladiri Bikin Fokus Makin Tajam, Ini Penjelasannya

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Latihan beladiri selama ini identik dengan fisik kuat dan kemampuan membela diri. Namun di balik itu, ada manfaat lain yang sering luput disadari: fokus dan kewaspadaan mental.

Hikmah | 07 Jan | Selengkapnya ...

Minum Air Comberan Padahal Ada Air Bersih: Itulah Ekonomi Umat Hari Ini

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Bayangkan seseorang kehausan di tengah terik matahari. Di sebelah kirinya ada segelas air putih: bersih, segar, dan menyejukkan. Tapi alih-alih meminumnya, ia malah menunduk, menyiduk segenggam air comberan dari selokan, lalu meneguknya dengan puas. Orang-orang yang melihatnya tentu akan terkejut, bahkan mungkin mengira tak waras.

Aneh? Ya. Tapi begitulah kondisi sebagian besar umat Islam hari ini—dalam urusan ekonomi.

Warisan yang Terlupakan

Umat Islam mewarisi sistem ekonomi yang mulia dan paripurna. Islam tidak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tapi juga cara berdagang, mengelola harta, memberi pinjaman, mengatur pajak, hingga membangun kesejahteraan masyarakat.

Namun kenyataannya, banyak dari kita justru lebih percaya pada sistem ekonomi konvensional—yang dipenuhi riba, spekulasi, dan ketimpangan. Sebuah sistem yang dibangun di atas fondasi kapitalisme dan nafsu, bukan nilai-nilai kebenaran.

Kita seperti orang haus yang malah memilih air comberan: kotor, bau, tapi dianggap “praktis” dan “menguntungkan”.

Fakta Pahit: Bank Syariah Masih Dipandang Sebelah Mata

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, tahukah Anda bahwa pangsa pasar bank syariah di Indonesia masih di bawah 10%?

Menurut data OJK per akhir 2024, aset bank syariah hanya sekitar 7,3% dari total perbankan nasional. Artinya, dari setiap 100 pengguna jasa bank, hanya 7–8 orang yang memilih bank syariah. Sisanya? Masih nyaman dengan sistem bunga—alias riba.

Padahal ini ibarat ada dua jalan: satu jalan bersih yang Allah ridhai, dan satu jalan berlumpur penuh dosa. Tapi entah kenapa, kita justru lebih suka jalan yang kotor.

Mengapa Kita Masih Memilih Air Comberan?

Beberapa alasan yang umum dijumpai:

  1. Kurangnya Edukasi
    Banyak umat yang belum paham apa itu riba, seberapa bahayanya, dan bagaimana sistem ekonomi Islam bekerja.

  2. Menganggap Syariah Itu Rumit
    Ada anggapan bahwa bank syariah ribet, keuntungannya kecil, atau produknya terbatas. Padahal itu lebih banyak mitos daripada fakta.

  3. Terlalu Percaya pada Sistem Buatan Manusia
    Sistem kapitalisme modern dianggap lebih “realistis” dan “canggih”. Padahal di dalamnya penuh cacat moral dan ketimpangan.

  4. Kurang Percaya pada Sistem Allah
    Ini yang paling serius. Padahal Allah telah menjanjikan keberkahan bagi siapa pun yang meninggalkan riba dan kembali ke sistem-Nya (lihat QS. Al-Baqarah: 275–279).

Air Putih Itu Ada, Tinggal Mau atau Tidak

Sistem ekonomi Islam bukan utopia. Ia nyata, pernah diterapkan, dan terbukti membawa kemakmuran. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, zakat sulit disalurkan karena semua rakyat telah sejahtera.

Kenapa bisa begitu? Karena sistem Islam:

  • Mengharamkan riba dan membebani kekayaan

  • Mengedepankan keadilan dan keseimbangan

  • Mewajibkan zakat, menyalakan infak dan sedekah

  • Mendorong distribusi kekayaan secara adil melalui sistem bagi hasil seperti mudharabah dan musyarakah

Hari ini, sistem ini mulai bangkit. Lembaga seperti bank syariah, koperasi syariah, marketplace halal, hingga produk keuangan syariah lainnya menjadi “air putih” yang sudah tersedia. Tinggal apakah kita mau meminumnya atau tetap memilih comberan.

Jangan Menyesal Saat Racunnya Menyebar

Mungkin sekarang kita merasa nyaman saja dengan sistem yang ada. Tapi perlahan, riba dan ketimpangan itu mulai meracuni:

  • Korupsi meningkat

  • Utang konsumtif meluas

  • Gaya hidup boros tak terkendali

  • Kesenjangan kaya-miskin makin menganga

  • Gaji naik, tapi hidup tetap sempit

Padahal Allah telah memperingatkan secara tegas:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu benar-benar beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu..." 
(QS. Al-Baqarah: 278–279)

Bayangkan, bukan negara asing yang memerangi kita, tapi Allah dan Rasul-Nya —hanya karena kita masih bersikuuh dengan sistem riba.

Saatnya Berpindah Gelas

Umat Islam tidak kekurangan sistem. Kita hanya kekurangan keberanian untuk kembali kepada aturan Allah.

Air putih itu ada: bersih, segar, dan penuh berkah. Tapi kita masih memilih air comberan karena dianggap lebih “mudah” dan “menguntungkan”.

Saatnya berubah.
Saatnya hijrah.
Dari sistem manusia menuju sistem Ilahi.
Dari riba menuju keberkahan.
Dari ketimpangan menuju keadilan.

Karena apa pun yang datang dari Allah, pasti lebih bersih, lebih adil, dan lebih menyelamatkan .

Oleh : Muh. Ilham Anugrah Bayu 
Tondong, 20 Muharram 1447 H / 26 Juli 2025 M

Hikmah | 18 Jul | Selengkapnya ...

Efek Boykot pada Perekonomian dan Kekuatan Militer Negara

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Pernahkah kita berpikir bahwa keputusan sederhana untuk tidak membeli suatu produk bisa mengguncang ekonomi sebuah negara? Bahkan lebih jauh lagi, bisa memengaruhi kekuatan militernya?

Boykot bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Namun, bagi umat Islam hari ini, terutama dalam konteks konflik berkepanjangan di Palestina, boykot telah menjadi bentuk perlawanan yang sangat bermakna. Tidak perlu senjata, tidak perlu anggaran besar—cukup kesadaran kolektif, konsistensi, dan niat untuk tidak menjadi bagian atau kontributor dari sistem yang menindas.

Mengapa Boykot Itu Penting?

Kita hidup di era kapitalisme global. Banyak perusahaan multinasional terlibat langsung atau tidak langsung dalam mendanai penjajahan, kekerasan, bahkan genosida. Sebagian dari mereka bahkan secara terang-terangan menyumbang kepada para negara tinari tanpa terkecuali militer Israel atau memberikan dukungan teknologi kepada sistem apartheid terhadap rakyat Palestina.

Dengan membeli produk mereka, secara tidak sadar kita ikut memperkuat ekonomi yang menopang mesin militer. Di sinilah kekuatan boykot mengambil peran: memutus aliran dana ke arah yang salah.

Sekilas Kondisi Palestina Saat Ini

Sejak Oktober 2023, Gaza mengalami salah satu serangan paling brutal dalam sejarahnya. Puluhan ribu warga Palestina telah syahid, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan yang tak berdosa. Ratusan ribu lainnya terluka, kehilangan rumah, dan hidup dalam kelaparan serta trauma.

Blokade total yang diberlakukan oleh Israel menghalangi bantuan medis dan pangan masuk ke Gaza. Rumah sakit lumpuh, sekolah hancur, dan seluruh sistem kehidupan runtuh. Listrik dan air bersih nyaris tidak tersedia. Ini bukan lagi soal konflik, ini soal pembantaian sistematis terhadap sebuah bangsa.

Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan sebagai Muslim yang hidup nyaman di luar zona perang? Salah satu jawabannya: boykot.

Contoh Nyata Dampak Boykot

Bukan isapan jempol belaka. Beberapa waktu lalu, perusahaan-perusahaan besar yang ditengarai pro-Israel mengalami penurunan penjualan drastis bahkan penutupan beberapa gerai dan restoran di berbagai negara mayoritas Muslim. Salah satu jaringan makanan cepat saji yang sangat populer misalnya, melaporkan penurunan pendapatan hingga miliaran dolar hanya dalam hitungan bulan.

Efek ini bukan hanya tekanan ekonomi. Ketika angka penjualan merosot, perusahaan mulai panik. Mereka terpaksa mengeluarkan pernyataan publik, berusaha menjauhkan diri dari konflik, atau bahkan mengubah kebijakan mereka. Artinya? Suara kita didengar, tindakan kita diperhitungkan.

Bayangkan jika itu dilakukan secara konsisten oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Jika 1 orang berhenti membeli produk seharga Rp20.000, mungkin tak terasa. Tapi kalau 10 juta orang? Itu berarti Rp200 miliar. Dan uang sebesar itu bisa saja tadinya digunakan untuk membeli senjata, amunisi, atau membiayai propaganda.

Kaitan Langsung dengan Militer

Uang adalah darah dalam sistem militer modern. Tanpa dana, militer tidak bisa membeli senjata, membayar tentara, atau mendanai operasi-operasi intelijen. Beberapa perusahaan yang kita boikot memiliki keterkaitan langsung dengan penyediaan teknologi militer—baik berupa perangkat pengawasan, alat pelacak, hingga sistem persenjataan canggih.

Dengan melemahkan perusahaan-perusahaan tersebut secara finansial, maka secara tidak langsung kita juga melemahkan kekuatan militer yang disokongnya.

Ini Bukan Sekadar Isu Palestina

Kadang kita berpikir, “Ah, Palestina jauh. Saya di Indonesia, apa pengaruhnya?”
Tapi sesungguhnya ini bukan hanya soal Palestina. Ini soal keadilan global, soal keberpihakan pada yang tertindas, soal tanggung jawab moral sebagai Muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Perumpamaan kaum Mukminin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi seperti satu tubuh; jika satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak tidur dan demam."
(HR. Muslim)

Maka jika saudara kita di Gaza dibantai, dan kita masih nyeruput kopi dari perusahaan yang ikut menyumbang ke sana, atau menikmati seporsi nasi dari salah satu perusahaan penyokong dana militer israel bukankah itu bentuk kealpaan yang menyakitkan?

Tantangan dan Konsistensi

Tentu, boykot tidak mudah. Banyak produk-produk yang sudah terlanjur jadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Tapi di sinilah tantangannya: sejauh mana kita rela berkorban untuk membela kebenaran?

Kita tidak dituntut untuk sempurna. Namun setiap langkah kecil yang kita ambil, jika dilakukan bersama-sama, akan menciptakan efek besar. Ini bukan tentang satu orang, tapi tentang kesadaran kolektif umat Islam di seluruh dunia.

Perlawanan Tak Harus Angkat Senjata

Perlawanan tidak harus di medan tempur. Dengan boikot, kita sedang ikut bertempur di medan ekonomi. Dan ingat, setiap rupiah yang tidak kita belanjakan ke pihak yang menindas, adalah bentuk solidaritas nyata kita.

Kita mungkin tidak bisa mengangkat senjata. Tapi kita bisa memilih apa yang kita beli. Kita mungkin tidak bisa melarang perusahaan besar munyuplai dana ke militer israel. Tapi kita punya hak untuk tidak membeli dari perusahaan tersebut. Kita bisa membangun ekonomi sendiri. Kita bisa memperkuat brand-brand lokal milik umat. Kita bisa... jika kita mau.

Mari terus istiqamah dalam boikot. Bukan karena tren. Bukan karena viral. Tapi karena ini adalah bagian dari iman kita, dari kepedulian kita, dan dari jihad kita di jalan Allah.

Oleh: Muh Ilham Anugrah Bayu


Hikmah | 07 Jul | Selengkapnya ...

STATUS HUKUM DARAH MANUSIA, NAJIS ATAU SUCI?

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Darah manusia menjadi salah satu pembahasan menarik dalam bab fikih dari dulu hingga sekarang. Dalam hal ini, para ulama fikih berbeda pendapat tentang status hukum darah manusia: apakah ia najis atau suci. Berikut penjelasan pendapat para ulama:

1. Mayoritas Ulama: Darah Manusia Najis (kecuali sedikit)

Mayoritas ulama fikih dari kalangan mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa darah manusia adalah najis, hanya saja dimaafkan jika dalam jumlah sedikit. Namun, mereka memberikan pengecualian terhadap darah syuhada. Menurut jumhur, darah syahid adalah suci selama masih melekat pada jasadnya. Berdasarkan hadits Nabi ﷺ untuk sahabat yang syahid di medan Uhud:

عن عبد الله بن ثعلبة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لقتلى أُحُد: "‌زَمِّلوهم ‌بدمائهم، ‌فإنَّه ‌ليس ‌كَلْمٌ يُكْلَمُ في الله إلَّا يأتي يوم القيامة يدمى، لونه لون الدَّم، وريحه ريحُ المِسْك"

Dari Abdullah bin Tsa'labah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tutupi mereka dengan darah mereka. Sesungguhnya tidak ada luka karena Allah kecuali pada Hari Kiamat luka tersebut akan datang mengalirkan darah; warnanya sewarna darah, dan baunya seperti bau kasturi.”
(HR. An-Nasa’i, Sunan al-Nasa’i, Juz 4, No. 2002, h. 123)

2. Sebagian Ulama: Darah Manusia Suci (Kecuali Haid, Nifas, dan Istihadhah)

Sebagian ulama fikih lainnya berpendapat bahwa darah manusia adalah suci, kecuali darah haid, nifas, dan istihadhah. Berikut dalil-dalil pendapat ini:

a. Kaidah Asal Segala Sesuatu Itu Suci

Asalnya segala sesuatu adalah suci hingga ada dalil yang menyatakan najis. Tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan mencuci darah (manusia), kecuali darah haid. Padahal luka, mimisan, bekam, dan sebagainya adalah hal yang lumrah terjadi. Jika darah manusia najis, tentu Nabi akan menjelaskan dengan tegas, karena ini menyangkut kebutuhan banyak orang.

b. Praktik Sahabat dalam Shalat Saat Terluka

Kaum muslimin dari zaman Nabi ﷺ hingga sekarang shalat dalam keadaan luka, sebagaimana disebutkan oleh Hasan al-Bashri rahimahullah:

وَقَالَ الْحَسَنُ: مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِي جِرَاحَاتِهِمْ

Hasan al-Bashri berkata: “Kaum muslimin (yakni para sahabat) tetap mengerjakan shalat dalam keadaan luka.”
(Shahih Bukhari, Juz 1, h. 76)

c. Riwayat Ibnu Umar

وَعَصَرَ ابْنُ عُمَرَ بَثْرَةً، فَخَرَجَ مِنْهَا الدَّمُ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

Abdullah bin Umar pernah memencet bisul yang ada padanya, lalu keluar darah dan beliau tidak berwudhu.
(Shahih Bukhari, Juz 1, h. 76)

d. Kisah Sahabat yang Shalat dalam Keadaan Dipanah

Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud bahwa salah seorang sahabat melaksanakan shalat malam, kemudian dipanah oleh musyrikin sebanyak tiga kali. Namun, beliau tetap rukuk dan sujud serta menyelesaikan shalat dalam keadaan bersimbah darah.

Sekiranya darah manusia najis, tentu sahabat tersebut akan membatalkan shalatnya. Tapi karena pemahaman beliau bahwa darah manusia tidak najis, maka shalat tetap dilanjutkan.

e. Tubuh Manusia adalah Suci

Jika salah satu bagian tubuh manusia terpotong (seperti tangan), maka potongan itu tetap suci meskipun mengeluarkan banyak darah. Maka, darah yang keluar pun ikut dalam hukum tersebut—yaitu suci.


Kesimpulan

Masalah ini merupakan salah satu perbedaan pendapat yang kuat di kalangan ulama. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa darah manusia tidak najis, kecuali yang keluar dari dua jalan (kemaluan dan dubur) seperti darah haid, nifas, dan istihadhah.

Pendapat ini lebih condong kepada pandangan Syaikh Ibnu Utsaimin, sebagaimana dijelaskan:

ولهذا كان القول الراجح أن دم الإنسان الذي لا يخرج من القبل أو الدبر طاهر، لا يجب غسله ولا التنزه منه إلا على سبيل النظافة

Oleh karena itu, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa darah manusia yang tidak keluar dari qubul dan dubur adalah suci. Tidak wajib dicuci atau dihindari, kecuali dalam rangka menjaga kebersihan.
(Syarh Kitab al-Hajj, dalam Syarh Shahih Bukhari)

ودم الإنسان طاهر؛ لأن ميتته طاهرة، إلا ما خرج من السبيلين -القبل أو الدبر- فإن الحديث دل على أنه نجس؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم في المرأة يصيبها دم الحيض قال: (اغسلي عنك الدم)

Darah manusia itu suci karena bangkainya suci, kecuali yang keluar dari dua jalan—qubul dan dubur—sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ kepada wanita yang terkena darah haid: “Cucilah darimu darah itu.”
(Pendapat Syaikh Ibnu Utsaimin tentang darah manusia - Islamweb.net)


Namun, kita tetap menghormati pendapat jumhur ulama yang menyatakan bahwa darah manusia najis, serta dianjurkan bagi setiap muslim untuk menjaga kebersihan dan penampilan terbaik ketika hendak beribadah. Wallāhu a‘lam.

✍️ Ditulis oleh:
Ustaz Fadli Aiman, S.H., M.H.
Ketua Yayasan Pendidikan Al-Islami (YPAIS) Wahdah Islamiyah Sinjai
Da’i Kementerian Agama Kabupaten Sinjai
Pengurus DPP Wahdah Islamiyah Indonesia (LPYP DPP)

Hikmah | 04 Jul | Selengkapnya ...

Ketika Dakwah Tak Dihargai: Meneladani Kesabaran Nabi Nuh dan Nabi Musa

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Dakwah adalah kerja cinta. Namun seringkali cinta ini bertepuk sebelah tangan. Seruan kebaikan dibalas dengan cemooh, ajakan menuju Allah dijawab dengan penolakan. Tidak sedikit para penggerak dakwah merasa lelah, putus asa, bahkan tergoda untuk berhenti.

Namun, dalam kondisi seperti ini, mari sejenak menundukkan hati dan menengok sejarah agung para Nabi. Di sana kita temukan dua sosok luar biasa: Nabi Nuh 'alaihis salam dan Nabi Musa 'alaihis salam. Mereka bukan hanya berdakwah, tapi juga menapaki jalan panjang penuh rintangan yang lebih berat dari apa pun yang mungkin kita alami hari ini.

Nabi Nuh: Seribu Tahun Mengetuk Pintu Hati

Perjalanan Dakwah Nabi Nuh sangat mencengangkan. Bukan 9 bulan, bukan 50 tahun, ataupun 100 tahun. Nabi yang mulia ini menyampaikan risalah dari Allah hampir 1000 tahun lamanya-tepatnya 950 tahun. Sebagaimana firman Allah:

"Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia tinggal di antara mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun..." (QS. Al-‘Ankabut: 14)

Siang dan malam beliau menyeru umatnya untuk beriman, namun yang menjawab hanya segelintir. Bahkan anak dan istrinya sendiri tak mau mengikut.

"Dan tidaklah beriman bersama Nuh kecuali sedikit." (QS. Hud: 40)

Para ulama memang berselisih pendapat mengenai jumlah orang yang beriman kepada Nabi Nuh. Ibnu Katsir sendiri dalam tafsirnya menyatakan bahwa pendapat ulama terbagi kedalam 2 yaitu ada yang mengatakan 80 orang dan ada yang mengatakan hanya 10 orang bahkan kurang. Intinya selama 950 tahun Nabi Nuh berdakwah, pengikutnya tidak mencapai 100 orang .

Bayangkan rasa sedih yang dialaminya. Tapi Nabi Nuh tak menyerah. Ia tidak dakwah karena ingin hasil, tapi karena taat kepada Allah. Ia yakin, tugasnya hanya menyampaikan, bukan memberi hidayah.

Baca Juga:

Apakah Darah Hukumnya Najis? Ini Penjelasan Lengkapnya


Nabi Musa: Tegar Melawan Tirani

Nabi Musa menghadapi penguasa paling zalim sepanjang sejarah: Firaun. Dengan kekuatan militer, kekuasaan, dan propaganda. Firaun bukan lawan yang ringan tapi Musa tidak gentar. Dengan gagah berani Musa menyatakan kebenaran dihadapan raja durjana meskipun nyawa menjadi taruhannya. Hanya Allah yang menjadi tumpuan harapannya.

"Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang sombong yang tidak beriman kepada hari perhitungan."
(QS. Ghafir: 27)

Dan Allah membalas keteguhan itu:

"Janganlah kamu takut, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua (Musa dan Harun), Aku mendengar dan melihat."
(QS. Thaha: 46)

Musa mengajarkan bahwa berdakwah di hadapan kekuasaan bukan mustahil, selama kita yakin Allah bersama kita.

Dakwah Bukan Soal Viral, Tapi Nilai

Kita hidup di zaman yang serba instan. Kita ingin dakwah yang langsung viral, kajian yang langsung penuh, konten yang langsung banjir follower. Tapi dakwah tidak selamanya berjalan dengan cara itu. Terkadang pejuang dakwah telah “jungkir balik” untuk mengajak manusia untuk taat kepada Allah namun tidak sedikit orang yang acuh terhadap ajakan tersebut.

Tapi ingatlah meskipun satu orang yang mengikuti ajakan maka pahala besar telah disiapkan oleh Allah.

"Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun."
(HR. Muslim)

Satu orang yang berubah karena dakwahmu bisa menjadi jalan hidayah bagi ribuan lainnya. Dan engkau tetap mendapat bagian dari pahala itu.

Tetaplah Menyala, Meski Tak Dipuja

Dakwah itu seperti menyalakan lampu kecil di tengah kegelapan. Kadang cahaya kita diabaikan. Tapi ingatlah, yang mencatat bukan manusia, tapi Allah. Tetaplah menyala meskipun hanya sebuah lampu kecil ditengah gelap gulita hutan belantara. Tetaplah menyeru meskipun kemegahan dunia terkadang menutupi cahaya itu.

Dakwah adalah perjuangan panjang. Kadang tak terlihat, tapi selalu bernilai. Jika engkau tak dihargai oleh manusia, maka bergembiralah—karena itu tanda dakwahmu murni karena Allah.

Dakwah Adalah Bukti Cinta

Mengajak orang lain kepada Allah adalah bentuk cinta paling tulus. Cinta kepada Allah, dan cinta kepada umat. Maka teruslah berdakwah, wahai jiwa-jiwa pilihan!

"Dan barang siapa yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Jangan berhenti. Jangan lelah. Teruslah menyampaikan kebaikan—meski hanya satu kalimat, satu nasihat, satu doa. Karena dakwahmu adalah cahaya.

Dan umat sedang menunggu cahaya itu.

Oleh: Muh Ilham Anugrah Bayu

Hikmah | 01 Jul | Selengkapnya ...

Apakah Darah Hukumnya Najis? Ini Penjelasan Lengkapnya

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Darah yang mengalir adalah najis menurut kesepakatan para ulama. Hal ini ditunjukkan oleh dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

قُلْ لَّآ أَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ

"Katakanlah, 'Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali (daging) hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi karena ia najis, atau yang disembelih secara fasik (dengan menyebut nama selain Allah).'"
(QS. Al-An’am: 145)

Ayat ini menunjukkan bahwa darah yang mengalir adalah najis, dan hal ini merupakan ijma' (kesepakatan) para ulama.

Dalam Tafsir al-Baghawi, Abdullah bin Abbas berkata:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُرِيدُ مَا خَرَجَ مِنَ الْحَيَوَانِ، وَهُنَّ أحياء وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَوْدَاجِ عِنْدَ الذَّبْحِ

(Berkata Ibnu Abbas: yang dimaksud adalah darah yang keluar dari hewan dalam kondisi hidup dan yang keluar dari pembuluh darah saat disembelih).
(Tafsir al-Baghawi, Juz 2, hlm. 166)

Dalil lain adalah hadits dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu:

جَاءَتْ امرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ : إِحْدَانَا يُصِيبُ ثَوْبَهَا مِنْ دَمِ الْحَيْضَةِ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهِ ؟ قَالَ : تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ تَنْضَحُهُ ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ

(Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: "Salah satu dari kami pakaiannya terkena darah haid, apa yang harus dilakukan?" Beliau menjawab: "Keriklah darah itu, lalu gosok dengan air, lalu bilas. Setelah itu, shalatlah dengan pakaian itu.")
(HR. Bukhari no. 227 dan Muslim no. 291)


Pembagian Darah Menurut Hukumnya

A. Darah yang Najis

1. Najis yang Tidak Dimaafkan Sama Sekali

  • Darah yang keluar dari dua lubang (kemaluan dan dubur).

  • Darah bangkai dari hewan yang tidak halal dimakan.

2. Najis yang Dimaafkan Jika Sedikit

  • Darah manusia (menurut sebagian ulama).

  • Darah dari bangkai hewan yang halal dimakan.

  • Sisa darah dalam tubuh hewan setelah disembelih syar’i.


Ukuran Najis yang Dimaafkan (Perbedaan Pendapat Ulama):

a. Sebesar Dirham
Dalam al-Inayah Syarh al-Hidayah, Akmaluddin al-Babarti berkata:

‌وَقَدْرُ ‌الدِّرْهَمِ ‌وَمَا ‌دُونَهُ ‌مِنَ ‌النَّجَسِ ‌الْمُغَلَّظِ كَالدَّمِ وَالْبَوْلِ وَالْخَمْرِ وَخَرْءِ الدَّجَاجِ وَبَوْلِ الْحِمَارِ جَازَتِ الصَّلَاةُ مَعَهُ، وَإِنْ زَادَ لَمْ تَجُزْ

(Najis berat seperti darah, kencing, khamar, kotoran ayam, dan kencing keledai, jika ukurannya sebesar dirham atau kurang maka shalat tetap sah. Namun jika lebih, maka tidak sah.)
(al-Inayah, Juz 1, hlm. 202)

b. Tidak Terlihat oleh Pandangan Mata
Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan:

وَكَذَا فِي قَوْلٍ: نَجَسٌ لَا يُدْرِكُهُ الطَّرْفُ، قُلْتُ: ذَا الْقَوْلُ أَظْهَرُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

(Najis yang tidak terlihat oleh mata dimaafkan. Pendapat ini lebih kuat. Wallahu a’lam)
(al-Minhaj, Juz 1, hlm. 59–60)

c. Tidak Dimaafkan Sekecil Apapun
Dalam Kasyaf al-Qina’, al-Buhuti mengatakan:

وَلَا يُعْفَى عَنْ يَسِيرِ نَجَاسَةٍ وَلَوْ لَمْ يُدْرِكْهَا الطَّرْفُ، أَيْ الْبَصَرُ، كَالَّذِي يَعْلَقُ بِأَرْجُلِ الذُّبَابِ وَنَحْوِهِ، لِعُمُومِ قَوْلِهِ تَعَالَى: (وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ)

(Tidak dimaafkan sedikit pun najis, walaupun tidak terlihat oleh mata seperti najis yang menempel di kaki lalat, karena keumuman firman Allah: "Dan pakaianmu sucikanlah."
(QS. Al-Muddatsir: 4)


B. Darah yang Suci

1. Darah Ikan

Darah ikan suci karena bangkai ikan halal. Rasulullah ﷺ bersabda:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ"

(Beliau bersabda: "Air laut itu suci, dan bangkai hewannya halal.")
(HR. Abu Daud, Juz 1, no. 83)

2. Darah Hewan yang Tidak Mengalir

Misalnya darah lalat, nyamuk, kutu. Dalilnya hadits:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِي الْآخَرِ دَاءً

(Jika lalat jatuh ke dalam minuman salah satu dari kalian, maka celupkanlah seluruh tubuhnya, lalu buang, karena salah satu sayapnya terdapat obat dan yang lain penyakit.)
(HR. Bukhari no. 5782)

3. Darah yang Menggumpal (Hati, Limpa, dll.)

Organ seperti hati dan limpa tidak najis karena darahnya tidak mengalir.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُرِيدُ مَا خَرَجَ مِنَ الْحَيَوَانِ، وَهُنَّ أَحْيَاء، وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَوْدَاجِ عِنْدَ الذَّبْحِ، وَلَا يَدْخُلُ فِيهِ الْكَبِدُ وَالطِّحَالُ، لِأَنَّهُمَا جَامِدَانِ، وَقَدْ جَاءَ الشَّرْعُ بِإِبَاحَتِهِمَا، وَلَا مَا اخْتَلَطَ بِاللَّحْمِ مِنَ الدَّمِ، لِأَنَّهُ غَيْرُ سَائِلٍ

(Yang dimaksud darah yang najis adalah yang keluar dari hewan hidup dan dari pembuluh saat disembelih. Tidak termasuk hati dan limpa karena keduanya padat, dan telah dihalalkan oleh syariat. Darah yang bercampur dengan daging juga tidak termasuk najis karena tidak mengalir.)
(Tafsir al-Baghawi, Juz 2, hlm. 166)


Kesimpulan

  • Darah yang mengalir adalah najis, berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ ulama.

  • Namun tidak semua darah najis. Darah ikan, serangga kecil, dan organ padat seperti hati dan limpa tidak dianggap najis.

  • Dalam hal najis yang sedikit, terdapat khilaf di kalangan ulama, antara yang memaafkan jika kecil dan yang tidak memaafkan sama sekali namun pendapat Al Imam An Nawawi bahwa darah dimaafkan selama tidak terlihat oleh pandangan mata lebih di kuatkan.

Wallahu a’lam.


✍️ Ditulis oleh:
Ustaz Fadli Aiman, S.H., M.H.
Ketua Yayasan Pendidikan Al-Islami (YPAIS) Wahdah Islamiyah Sinjai
Da’i Kementerian Agama Kabupaten Sinjai (PAI)

Hikmah | 17 Jun | Selengkapnya ...

Amalan Remeh, Pahala Agung

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Pernahkah Anda mendengar kisah seorang muslimah yang melakukan amalan sederhana—begitu sederhana hingga nyaris tak dipandang oleh kebanyakan orang—namun justru mendapat kemuliaan di sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam?

Diceritakan dalam sebuah hadits, ada seorang wanita tua berkulit hitam yang setiap hari mengabdikan dirinya untuk membersihkan masjid, tempat kaum muslimin beribadah. Amalan yang mungkin tampak kecil, sepele, dan tak berarti di mata manusia. Bukan puasa, bukan shalat berjamaah, bukan pula jihad di medan laga. Namun, bagi wanita ini, membersihkan rumah Allah adalah bentuk pengabdian tanpa pamrih.

Ia tidak pernah mempermasalahkan apakah yang ia lakukan akan diingat atau diapresiasi. Ia terus melakukannya dengan sepenuh hati, tanpa diminta, tanpa disuruh, dan tanpa mengharap pujian. Mungkin kita bertanya: "Apa pentingnya pekerjaan ini dalam membangun kejayaan Islam?" Tapi justru di sanalah letak keistimewaannya.

Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa wanita ini, yang oleh sebagian ulama disebut sebagai Ummu Mahjan, tiba-tiba tak terlihat lagi di masjid. Rasulullah pun menyadari ketidakhadirannya dan bertanya kepada para sahabat, "Kemana wanita yang biasa membersihkan masjid itu?"

Para sahabat menjawab bahwa ia telah meninggal dunia pada malam sebelumnya. Mereka tidak sempat memberitahu Rasulullah karena beliau tengah beristirahat dan mereka menganggap tak layak mengganggunya hanya untuk memberitahukan wafatnya seorang wanita yang tak dikenal. Namun reaksi Rasulullah sangat mengejutkan—beliau tampak kecewa dan segera menanyakan letak kuburannya.

Tanpa menunda, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun pergi ke sana dan menshalatkan jenazahnya. Sungguh sebuah penghormatan luar biasa dari Rasulullah untuk seorang wanita sederhana yang hanya melakukan tugas kecil—membersihkan masjid. Tidak semua sahabat mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini. Bukankah ini menjadi bukti betapa mulianya amalan yang tampak sepele di mata manusia, namun agung di sisi Allah dan Rasul-Nya?

Pelajaran Berharga

Saudaraku yang dirahmati Allah, dari kisah ini kita bisa mengambil dua pelajaran penting.

Pertama, tidak ada kata terlambat untuk beramal sholeh. Usia bukanlah penghalang untuk berkontribusi di jalan Allah. Lihatlah wanita tua itu—meski raganya telah renta, ia tetap semangat membersihkan rumah Allah sebagai bentuk cinta dan pengabdian.

Kedua, jangan pernah meremehkan amal kecil. Mungkin kita bukan penceramah yang mampu menggugah ribuan hati. Mungkin kita bukan Hafizh Qur’an yang bacaan indahnya menggetarkan jiwa. Mungkin kita bukan guru agama yang mengajarkan Al-Qur’an dan hadits.

Namun bisa jadi kita adalah orang yang dengan setia mengangkat meja pengajian, menempel poster dakwah, atau sekadar menjadi tukang parkir dalam majelis ilmu. Ingatlah, Allah tidak menilai besar kecilnya amal dari bentuknya semata, tetapi dari niat dan keikhlasan yang mengiringinya.

Jangan minder, jangan lelah. Teruslah berkontribusi. Meski kecil, meski tak terlihat, bisa jadi itulah amalan yang akan memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat nanti.

Penulis: Muh Ilham Anugrah Bayu

Hikmah | 16 Jun | Selengkapnya ...

Kepala SMAS IT Wahdah Ajak Terapkan Tarbiyah Islamiyah untuk Pendidikan Karakter di SMA Sinjai

Sinjai.Wahdah.Or.Id -- Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perubahan sosial, remaja di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya dituntut meraih prestasi akademis, tetapi juga harus dibekali dengan karakter kuat agar mampu menjalani kehidupan dengan bijak dan bertanggung jawab.

Menjawab kebutuhan ini, program Tarbiyah Islamiyah hadir sebagai solusi konkret dalam membangun pendidikan karakter yang kokoh dan terarah. Tarbiyah bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi merupakan proses pembinaan berkelanjutan yang menyentuh aspek spiritual, emosional, sosial, dan intelektual peserta didik.

Hal inilah yang ditegaskan oleh A. Irfandi, Kepala SMAS IT Wahdah Islamiyah Sinjai salah satu sekolah Islam terpadu yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Wahdah Islamiyah Sinjai. Dikenal sebagai kepala sekolah termuda, pria yang akrab disapa Bang AIB ini membawa semangat baru dalam menghidupkan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam.

“Program Tarbiyah Islamiyah harus menjadi arus utama dalam pendidikan remaja kita, bukan hanya pelengkap. Melalui Tarbiyah, peserta didik bisa tumbuh dengan akhlak mulia, semangat belajar yang tinggi, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial dan spiritual,” ujarnya.

Dengan visi “Membentuk generasi Qur’ani yang religius dan unggul,” SMAS IT Wahdah Islamiyah Sinjai menempatkan Tarbiyah sebagai pondasi utama dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya diajarkan, tetapi dijadikan prinsip hidup yang membentuk karakter siswa sejak dini.

Inisiatif ini juga selaras dengan semangat Kabupaten Sinjai sebagai “Bumi Panrita Kitta”, daerah yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kearifan. Program Tarbiyah Islamiyah yang diterapkan di SMAS IT diharapkan menjadi model pendidikan karakter Islami yang bisa diadopsi lebih luas, terutama dalam konteks lokal Sinjai.

Lebih lanjut, Bang AIB mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mendukung gerakan pendidikan karakter berbasis Tarbiyah:

“Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pendidikan karakter yang kuat. Generasi Qur’ani adalah kebutuhan zaman, dan kita harus mencetaknya bersama.”

Dengan semangat kolaboratif dan visi keislaman yang kuat, SMAS IT Wahdah Islamiyah Sinjai siap menjadi bagian dari solusi pendidikan karakter bagi remaja di Sinjai dan sekitarnya.

Hikmah | 16 Jun | Selengkapnya ...
Dengarkan Streaming Online

 Radio Wahdah

Dakwah - Pendidikan - Sosial - Kesehatan

Ormas Islam Bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah

Profil


DPW Wahdah Islamiyah Sulsel

Jl. Antang Raya
Ruko Antang Business Center (ABC) No. 4
Kec. Manggala, Kota Makassar
Sulawesi Selatan 90234, Indonesia
Telp. +62 821-4777-1717
Makassar - Indonesia 90234
E-Mail : [email protected]