SINJAI.Wahdah.Or.Id — Lapangan SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai menjadi tempat pelaksanaan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026). Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, seluruh petugas upacara kali ini berasal dari kalangan pegawai ikhwa (laki-laki) SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai.
Upacara berlangsung dengan tertib dan diikuti oleh para siswa, ustaz, serta ustazah. Momentum tersebut tidak hanya menjadi agenda peringatan nasional, tetapi juga dimanfaatkan untuk mengajak peserta didik memahami nilai Pancasila melalui perspektif tauhid, adab, persatuan, dan pendidikan.
Kepala SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai, Ustaz Muhammad Rakib, S.Pd.,Gr., dalam amanatnya mengajak para siswa menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum belajar sejarah sekaligus memperkuat nilai keislaman.
“Anak-anakku yang sholeh dan sholehah, pejuang Qur’an yang Ustadz cintai karena Allah. Para Ustadz dan Ustadzah, mujahid dan mujahidah pendidikan yang semoga lelahnya menjadi lillah,” tuturnya mengawali amanat.
Menurutnya, upacara 1 Oktober bukan sekadar kegiatan seremonial. Para siswa diajak memahami bahwa perjalanan bangsa Indonesia memiliki kaitan erat dengan pentingnya menjaga persatuan dan nilai-nilai kehidupan berbangsa.
“Pagi ini kita berdiri bukan sekadar upacara. Kita sedang belajar sejarah dan aqidah,” katanya.
Dalam amanat tersebut, Ustaz Muhammad Rakib juga mengaitkan nilai-nilai Pancasila dengan karakter yang dibangun di lingkungan SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai. Ia kemudian menyampaikan tiga jati diri yang perlu dipegang para siswa.
Pertama, tauhid yang lurus sebagai pondasi. Para siswa diingatkan bahwa sebelum mengejar kecerdasan akademik, mereka perlu memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah.
“Di Wahdah Islamiyah, kita diajarkan: sebelum pintar matematika, luruskan dulu tauhidnya,” ujarnya.
Ia juga mengajak siswa membuktikan kekuatan tauhid melalui perilaku sehari-hari, seperti menjaga salat berjamaah, berlaku jujur, serta berani menolak keburukan.
Pesan tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 103 agar kaum muslimin berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.
Kedua, adab di atas ilmu. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.
“Ustadz tidak butuh kalian hanya ranking satu, tapi Ustadz butuh kalian yang santun sama Ustadzah, sayang sama teman, hormat sama orang tua, dan cinta sama teman yang berbeda suku,” jelasnya.
Ia mengingatkan para siswa agar tidak saling mengejek maupun melakukan perundungan. Perbedaan latar belakang suku, seperti Bugis, Makassar, maupun Jawa, disebut sebagai bagian dari keberagaman yang harus dihargai dalam keluarga besar SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai.
Ketiga, Qur’ani dan berprestasi untuk negeri. Ustaz Muhammad Rakib menyampaikan bahwa generasi SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai diharapkan tumbuh menjadi generasi yang dekat dengan Al-Qur’an sekaligus memiliki prestasi.
Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan bangsa dengan pengorbanan yang besar, maka para siswa saat ini dapat mengisi perjuangan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh, menghafal Al-Qur’an dengan mutqin, dan berprestasi.
“Kesaktian Pancasila harus kita jaga dengan ilmu,” tegasnya.
Di akhir amanat, Ustaz Muhammad Rakib mengajak para siswa untuk menunjukkan bahwa nilai keislaman dan kecintaan terhadap Indonesia dapat berjalan bersama.
“Jadilah Pancasilais karena ke-Islamanmu yang kaffah. Jadilah Islami karena engkau paham arti persatuan dalam Pancasila,” pesannya.
Ia berharap dari SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai lahir generasi yang tidak hanya cerdas dan dekat dengan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.
“Tunjukkan bahwa dari SDIT Wahdah Islamiyah Sinjai, akan lahir pemimpin masa depan Sinjai yang sholeh, cerdas, dan cinta NKRI,” pungkasnya.
Upacara kemudian ditutup dengan doa. Para siswa kembali mengikuti aktivitas pembelajaran dengan membawa pesan bahwa pendidikan, akhlak, kecintaan terhadap Al-Qur’an, persatuan, dan tanggung jawab sebagai warga negara merupakan bagian yang saling melengkapi.

Radio Wahdah